Tujuan Perusahaan Menjual Secara Kredit

Didalam sebuah bisnis jual beli penjualan adalah salah satu kunci suksesnya. Apabila penjualan kita tinggi maka laba yang akan diperoleh juga semakin besar.

Penjualan akan sangat mempengaruhi kemajuan suatu perusahaan, bagaimana perusahaan akan maju jika produk atau barang yang mereka jual tidak ada yang membeli.

Tentunya hal seperti itu bisa dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti harga, kualitas dan pelayanan.

Ketiga item tersebut yang harus menjadi bahan evaluasi apabila penjualan menurun atau bahkan tidak laku di pasaran.

Namun ada beberapa perusahaan yang melakukan penjualan kredit untuk meningkatkan penjualan mereka.

Apa itu Penjualan Kredit?

Penjualan kredit merupakan penjualan yang dilakukan secara non-tunai. Diharapkan dengan sistem kredit ini perusahaan mendapatkan laba yang lebih besar dibandingkan dengan sistem tunai.

Tentunya tidak hanya mendapatkan laba yang besar saja tetapi masih banyak lagi tujuan perusahaan menjual secara kredit ini.

Inilah yang akan menjadi topik pembahasan saat ini. Namun sebelum itu, kalian perlu memahami sitem penjualan kredit itu seperti apa?

Sistem Penjualan Kredit

Didalam ilmu akuntansi sistem penjualan kredit merupakan penjualan yang pembayarannya dilakukan setelah pemberian barang dengan jangka waktu yang sudah disetujui oleh masing-masing pihak.

Dalam hal ini apabila perusahaan sudah melakukan pengiriman barang kepada konsumen sesuai waktu yang ditentukan maka perusahaan memiliki piutang terhadap pelanggannya.

Umumnya dengan sistem seperti ini konsumen akan memiliki kesempatan kembali untuk membeli barang kembali kepada perusahaan dimasa yang akan datang.

Tujuan Penjualan Secara Kredit

Adapun tujuan dari perusahaan melakukan penjualan secara kredit, diantaranya yaitu:

  1. Meningkatkan volume penjualan dalam suatu periode dan dijadikan strategi persaingan demi memperbesar market share.
  2. Mendorong omzet lebih besar agar perolehan labanya semakin tinggi.
  3. Memberikan kesempatan kepada pembeli membelanjakan penghasilan yang akan diperoleh konsumen di masa akan datang.
  4. Meningkatkan hubungan yang baik dengan konsumen.
  5. Mendorong konsumen untuk membeli barang lebih banyak dari jumlah yang seharusnya.

Tidak semua perusahaan melakukan penjualan secara kredit, karena pada dasarnya ini memiliki resiko kedepannya yang harus ditanggung oleh perusahaan apabila sistem kredit ini macet.

Bahkan tidak sedikit perusahaan yang mengalami kerugian dengan penjualan secara kredit ini.

Sampai akhirnya mereka kembali menerapkan sistem penjualan tunai dalam sistem penjualannya.

Faktor yang Harus Diperhatikan dalam Penjualan Kredit

Untuk mengurangi resiko kerugian di masa yang akan datang serta bisa meningkatkan laba lebih besar lagi, maka ada beberapa hal yang harus diperhatikan dalam sistem penjualan kredit.

Adapun faktor-faktor yang harus diamati ialah standar kredit, syarat pembayaran, plafon kredit, volume penjualan, kebiasaan pembayaran pelanggan dan kebijakan pengumpulan piutang.

1. Standar Kredit

Standar kredit adalah salah satu faktor terpenting dalam mempengaruhi permintaan, dengan menurunkan standar kredit bisa mendorong permintaan.

Dengan begitu penjualan akan menjadi meningkat dan laba semakin besar. Namun resiki terjadi piutang tak tertagih juga menjadi lebih besar.

Tapi tentunya ini bisa diatasi dengan faktor-faktor penentu lainnya dalam penjualan kredit.

2. Syarat Pembayaran

Untuk memastikan pembayaran bisa dilakukan dengan baik perusahaan harus memberikan syarat-syarat pembayaran kepada mereka yang ingin melakukan kredit.

Syarat pembayaran ini pada umumnya ada yang bersifat ketat dan longgar. Agar perusahaan memperoleh piutang dagang lebih besar maka syarat penjualan kredit bersifat longgar atau senggang.

Misalnya saja syarat penjualannya adalah 2/10 net/30 yang artinya konsumen akan mendapatkan potongan tunai sebesar 2% dari harga jual apabila melakukan pembayaran dalam waktu 10 hari setelah pembelian barang dan pembayaran selambat-lambatnya dilakukan dalam jangka waktu 30 hari setelah pembelian barang.

Akan tetapi jika dalam tempo 30 hari pelanggan belum mampu melakukan pembayaran, makan jumlah investasi perusahaan dalam piutang semakin besar.

3. Plafon Kredit

Faktor selanjutnya adalah plafon kredit. Sebelum memberikan kredit kepada para calon pelanggan perusahaan wajib membuat suatu batasan kredit sesuai kemampuan pelanggan dalam melakukan pembayaran.

Poin-poin yang terdapat didalam plafon kredit ini harus lengkap agar tidak menjadi perdebatan atau pelanggan yang nakal dan tidak ingin membayar.

Dapat dipastikan bahwa plafon kredit ini merupakan satu dari beberapa metode untuk melakukan kontrol dalam pelaksanaan kebijakan kredit.

4. Volume Penjualan

Faktor yang keempat yaitu volume penjualan kredit. Disini perusahaan harus menentapkan batasan kredit yang bisa dilakukan oleh pelanggannya.

Semakin besar batasan kredit yang diberikan maka semakin besar juga dana yang di investasikan dalam piutang sebaliknya, semakin besar juga resiko piutang tak tertagih yang dialami.

Sebaiknya tidak semua orang diberikan kesempatan ini biasanya mereka yang sudah menjadi langganan tetap saja.

5. Kebijakan Pengumpulan Piutang

Faktor yang terakhir yakni kebijakan dalam pengumpulan piutang. Setiap perusahaan bisa membuat kebijakan dalam pengumpulan piutang baik secara aktif atau pasif.

Pada saat perusahaan melakukan kebijakan secara aktif tentu uang yang dikeluarkan lebih besar dibandingkan dengan melakukan kebijakan secara pasif.

Karena, perusahaan akan memperoleh investasi dalam piutang yang lebih kecil.

Itulah penjelasan mengenai tujuan perusahaan menjual secara kredit. Semoga penjelasan diatas bisa bermanfaat dan menambah wawasan bagi para pembaca yang belum memahami.

Leave a Comment